
ALKISAH dalam sebuah mikrolet ada tiga serdadu dari tiga kebangsaan berbeda, yaitu Amerika, Inggris dan Jerman. Tak lama kemudian ada seorang cewek memakai pakaian seksi plus rok supermini.
Karena gede rasa, si cewek berusaha menutupi celana dalam dengan memangku kaki. Namun tiba-tiba serdadu Amerika yang duduk di sebelah kanan memberi hormat.
Maka bertanyalah dua serdadu di sebelahnya mengapa ia memberi hormat. “Lihat! Paha kirinya ada tato bendera Amerika!” teriak serdadu itu.
Jengah karena perbuatan serdadu itu, perempuan itu berganti kaki. Kali ini serdadu Inggris di sebelah kiri yang memberi hormat. Dua serdadu lainnya bertanya ke serdadu Inggris ini. Namun jawabnya,
“Lihat! Paha kanannya ada tato bendera Inggris!”
Karena sebel, perempuan ini langsung membuka pahanya lebar-lebar. Tiba-tiba serdadu Jerman yang duduk di tengah memberi hormat dengan caranya yang khas. Dua serdadu lainnya bertanya apa maksudnya ikut-ikutan memberi hormat.
Serdadu Jerman itu menjawab, “Lihat! …. ada kumis Hittler!”
Lanjut….
______________________________________________
MARINI, pegawai sebuah kantor swasta asing pagi itu mau berangkat kerja dan lagi menunggu bus kota di mulut gang rumahnya.
Seperti biasa pakaian yang dikenakan cukup ketat, roknya semi-mini, sehingga bodinya yang seksi semakin kelihatan lekuk likunya.
Bus kota datang, Marini berusaha naik lewat pintu belakang, tapi kakinya kok tidak sampai di tangga bus.
Menyadari keketatan roknya, tangan kiri menjulur ke belakang untuk menurunkan sedikit resleting roknya supaya agak longgar.
Tapi, ugh, masih juga belum bisa naik. Ia mengulangi untuk menurunkan lagi resleting roknya. Belum bisa naik juga ke tangga bus.
Untuk usaha yang ketiga kalinya, belum sampai dia menurunkan lagi resleting roknya, tiba-tiba ada tangan kuat mendorong pantatnya dari belakang sampai Marini terloncat dan masuk ke dalam bus.
Marini melihat ke belakang ingin tahu siapa yang mendorongnya, ternyata ada pemuda gondrong yang cengar-cengir melihat Marini.
“Hei, kurang ajar kau. Berani-beraninya nggak sopan pegang-pegang pantat orang!”
Si pemuda menjawab kalem, “Yang nggak sopan itu situ, Mbak. Masak belum kenal berani-berani menurunkan resleting celana gua.”
______________________________________________
Dalam perjalanan kereta api Parahyangan dari Gambir ke Bandung, duduk berhadapan empat penumpang, yaitu seorang nenek, mahasiswi cantik, mahasiswa laki-laki, dan seorang tentara. Mereka tidak saling mengenal.
Perjalanan berlangsung nyaman-nyaman saja. Namun ketika kereta masuk ke terowongan, lampu kereta mendadak mati. Gelap gulita.
Tiba-tiba terdengar suara kecupan keras. Cap, cip, cup! Namun segera diikuti satu suara tamparan yang tidak kalah kerasnya. Plak, plek, plak!
Ketika terowongan itu akhirnya terlewati, keempat penumpang itu saling bengong dan saling memandang. Masing-masing berkata di dalam hati.
Sang nenek dalam hati, “Dasar anak mahasiswa muda, mentang-mentang tempat gelap langsung aja cium mahasiswi cantik itu. Rasain loe kena gaplok!”
Si Mahasiswi cantik dalam hatinya: “Biar rasa loe! Gelap-gelap asal cium, kena deh loe cium nenek itu, dan kena gaplokan juga lagi. Hihihi…!”
Si tentara dalam hati, “Busyet, dah. Enak bener tuh mahasiswa. Dia yang nyium cewek, eh gua yang kena gaplok… !”
Si mahasiswa laki itu berkata dalam hati, “Hehehe… mumpung gelap, tadi gua cium aja tangan gua sendiri, dan gua gaplok sekalian itu tentara belagu. Kapan lagi mahasiswa bisa gampar tentara?!”
______________________________________________
Si Ucok orang Batak, akhirnya mempersunting Ningsih (cewek Yogyakarta).
Pada “malam pertama ML”, si Ucok bersemangat sekali, sedangkan Ningsih dengan lemah lembut melayaninya.
Setelah 20 menit, Ningsih dengan lemah lembut berkata :
“Suudah … lah … Mas”.
Si Ucok agak tersinggung mendengarnya :
“Apa kau bilang … sudah LEEMAS ?”
“Kau lihat ini masih TEEGANG”.
______________________________________________
Seorang wanita sedang dalam proses melahirkan dibantu oleh dokter kandungan.
Tiba-tiba ia berhenti mengejan dan memanggil dokternya,
“Dokter, kalo bayinya mulai keluar, tolong ya nanti ceritakan warna dari setiap bagian tubuh anak saya”.
“Lho kenapa..?” tanya dokter dengan heran.
“Ehmm, saya sebenarnya artis porno XXX (triple X), dan saya nggak tahu persis siapa bapaknya”, kata wanita tsb.
Dokter mengangguk mengerti.
Akhirnya ketika kepala si bayi keluar dokter berkata, “Nah kepala bayi sdh mulai muncul dan warna rambutnya pirang, apakah di film itu ada aktor bulenya..?”
“Ada Dok, makasih”.
“Wah kulit mukanya agak pucat dan matanya sipit, apakah ada aktor Cinanya juga..?”
“Ada Dok, ada”.
“Sekarang keluar dada dan kedua tangannya, tapi kok warnanya hitam … ada aktor negronya ya..?”
“Iya, ada”.
“Nah, sekarang kakinya berwarna coklat sawo matang, ada orang Melayunya juga rupanya”.
“Oh ya ada dok”.
Setelah seluruh tubuh bayi keluar, nampak sekali wanita tsb sangat cemas.
Dokter: “bayinya sehat, kenapa cemas?”
Wanita: “saya cemas … menunggu suara tangis bayinya dok”.
Dokter kemudian memukul pantat bayi itu dan keluarlah suara tangisnya…”Ooeeeee…”
“Oh thanks God, aku kira tadi ia akan menggonggong,” desah wanita tsb dengan napas lega.
______________________________________________
Seorang pastor, karena punya banyak waktu senggang, hobinya memelihara burung disalurkan. Ada banyak burung yang dipeliharanya.
Pada suatu pagi, ternyata seluruh burung peliharaannya hilang semua. Merasa ulah si maling udah keterlaluan, si pastor berencana akan membawa masalah ini di kotbah minggu.
Pas kebaktian minggu, setelah berkotbah panjang lebar soal moral dengan penekanan pada perintah “jangan mencuri”
Si pastor bertanya “siapa yang punya burung?”
Seluruh jemaat laki laki segera berdiri.
Menyadari kesalahannya dalam cara bertanya si pastor buru-buru berkata “bukan itu maksud saya” dan dilanjutkan dengan pertanyaan “maksud saya adalah, siapa yang pernah lihat burung?”
Seluruh jemaat wanita berdiri.
Karena si pastor sadar pertanyaannya makin tidak pas, dengan muka merah dia berkata lagi “maaf, bukan itu maksud pertanyaan saya” dan dilanjutkan “maksud saya adalah siapa yang pernah lihat burung bukan miliknya”
Separuh jemaat wanita berdiri.
Muka si pastor makin merah, dan juga makin gugup, segera berkata lagi “maaf sekali lagi, bukan ke arah situ pertanyaan saya, maksud saya adalah, siapa yang pernah lihat burung saya?”
Segera saja semua anak altar berdiri.